OPTIMALISASI SMART VILLAGE MELALUI PELAYANAN PUBLIK DIGITAL BERBASIS SDGs DI DESA MOJOREJO
DOI:
https://doi.org/10.36636/eduabdimas.v5i2.9475Kata Kunci:
akuntabilitas, kolaborasi, pelayanan publik digital, SDGs, smart villageAbstrak
Pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan sistem pelayanan publik digital berbasis web di tingkat desa, meskipun pelatihan sebelumnya telah meningkatkan kapasitas aparatur. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peningkatan kompetensi dan keberlanjutan implementasi, khususnya dalam integrasi data, partisipasi masyarakat, dan tata kelola layanan digital. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat implementasi konsep Smart Village melalui optimalisasi pelayanan publik digital berbasis tata kelola kolaboratif guna mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek kelembagaan yang kuat, transparansi, dan partisipasi inklusif. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi lanjutan, pengembangan sistem layanan berbasis data, pelatihan lanjutan aparatur desa, serta pendampingan implementasi dan evaluasi berbasis kinerja. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemanfaatan website desa sebagai media pelayanan publik dan transparansi informasi, terbentuknya mekanisme partisipasi masyarakat melalui fitur digital, serta tersusunnya standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan sistem yang berkelanjutan. Novelty kegiatan ini terletak pada integrasi antara digitalisasi pelayanan, tata kelola kolaboratif, dan pendekatan berbasis SDGs dalam penguatan Smart Village yang adaptif dan berkelanjutan di tingkat desa.
Referensi
Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.
Anthopoulos, L. (2017). Smart utopia vs smart reality: Learning by experience from 10 smart city cases. Cities, 63, 128–148.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage Publications.
Dunleavy, P., Margetts, H., Bastow, S., & Tinkler, J. (2006). New public management is dead—Long live digital-era governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 16(3), 467–494.
Effendy, K. (2010). Penguatan pemerintahan desa. Indra Prahasta.
Gamaputra, G., et al. (2025). Laporan akhir pengabdian kepada masyarakat Desa Mojorejo. Universitas Negeri Surabaya.
Grindle, M. S. (1997). Getting good government: Capacity building in the public sectors of developing countries. Harvard University Press.
Heeks, R. (2006). Implementing and managing e-government: An international text. Sage Publications.
Irvin, R. A., & Stansbury, J. (2004). Citizen participation in decision making: Is it worth the effort? Public Administration Review, 64(1), 55–65.
Irwansyah. (2020). Penelitian hukum: Pilihan metode dan praktik penulisan artikel. Mitra Buana Media.
Janssen, M., Charalabidis, Y., & Zuiderwijk, A. (2017). Benefits, adoption barriers and myths of open data and open government. Information Systems Management, 29(4), 258–268.
Komninos, N. (2015). The age of intelligent cities: Smart environments and innovation-for-all strategies. Routledge.
Knowles, M. S., Holton, E. F., & Swanson, R. A. (2015). The adult learner: The definitive classic in adult education and human resource development (8th ed.). Routledge.
Mansyur, A. (2018). Manajemen dan tata kelola pemerintahan desa. Balai Pustaka.
Meijer, A., & Bolívar, M. P. R. (2016). Governing the smart city: A review of the literature on smart urban governance. International Review of Administrative Sciences, 82(2), 392–408.
Meijer, A., Curtin, D., & Hillebrandt, M. (2012). Open government: Connecting vision and voice. Government Information Quarterly, 29(1), 10–17.
Moore, M. H. (1995). Creating public value: Strategic management in government. Harvard University Press.
Nata Irawan. (2017). Tata kelola pemerintahan desa era UU Desa. Yayasan Obor Indonesia.
Osborne, S. P. (2010). The new public governance? Emerging perspectives on the theory and practice of public governance. Routledge.
Osborne, S. P., & Brown, L. (2011). Innovation in public services: Engaging with risk. Public Management Review, 13(1), 133–149.
Parasuraman, A., Zeithaml, V. A., & Berry, L. L. (1988). SERVQUAL model. Journal of Retailing, 64(1), 12–40.
Reason, P., & Bradbury, H. (2008). The Sage handbook of action research: Participative inquiry and practice (2nd ed.). Sage Publications.
Rumakat, L. Q. M. (2025). Analisis efektivitas pelayanan publik dalam penerapan sistem pemerintahan berbasis elektronik. Jurnal Riset Ilmu Pemerintahan, 4(2), 88–98.
Sugiartini, P., & Tamamiyah, L. (2024). Inisiatif e-government di Indonesia sebagai upaya meningkatkan pelayanan dan akuntabilitas publik. Action Research Literate, 8(4), 950–960.
Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development. United Nations.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Widjaja, H. A. W. (2003). Otonomi desa: Merupakan otonomi yang asli, bulat, dan utuh. Raja Grafindo Persada.
World Bank. (2016). Digital dividends. World Bank Publications.
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Sage Publications.
Zuiderwijk, A., & Janssen, M. (2014). Open data policies, their implementation and impact. Government Information Quarterly, 31(1), 17–29.







