PENDEKATAN SEGITIGA EMAS DALAM MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN BAGI MAHASISWA SANTRI (STUDI DI UNIVERSITAS IBRAHIMY SITUBONDO)
Keywords:
Pendekatan, pendidikan, Mahasiswa, santriAbstract
Universitas Ibrahimy Situbondo berada di bawah naungan pondok pesantren. Seluruh mahasiswanya adalah santri. Oleh karena itu seluruh kegiatan mahasiswa dan aturan-aturan yang ada di universitas tidak bisa terlepas dengan pesantren. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu ada pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan kondisi pendidikannya. Salah satu pendekatan yang dipilih di Universitas Ibrahimy adalah pendekatan segitiga emas. Istilah ini dicetuskan oleh KHR. Ahmad Fawaid As’ad sebagai pengasuh ketiga Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Dimana Universitas Ibrahimy berada di bawah naungannya.
Penelitian ini membahas tentang: 1) Siapa saja unsur pendekatan segitiga emas dalam mencapai tujuan pendidikan bagi mahasiswa santri; 2) Bagaimana penerapan pendekatan segitiga emas dalam pendidikan mahasiswa santri; 3) Bagaimana keterkaitan antara tiga unsur pendekatan segitiga emas dalam mencapai tujuan pendidikan bagi mahasiswa santri.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik penguumpulan data: wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data: pengumpulan data, pemilihan data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Teknik uji keabsahan data: derajat kepercayaan (triangulasi); keteralihan (uraian rinci); kebergantungan (audit kepentingan) dan kepastian (audit kepastian)’
Hasil penelitian: 1) Pendekatan segitiga emas teridir dari tiga unsur yaitu orang tua, guru/kyai (pesantren/lembaga pendidikan) dan mahasiswa/santri itu sendiri; 2) Ketiga unsur dari pendekatan segitiga emas itu harus terkoneksi dengan baik. Orang tua, guru dan santri harus sama-sama memilkik kemauan dan semangat. Tugas anak/santri adalah rajin belajar. Guru bertugas melakukan proses pendidikan . Orang tua bertugas membiayai putranya dengan harta yang halal karena hal itu sangat berpengaruh kepada perilaku anak di pondok. Selain itu ketiganya harus saling mendo’akan; 3) keterkaitan ketiganya bagaikan keterkaitan antara lampu, setrum dan kabelnya. Anak bagaikan lampu, orang tua bagaikan mesin desel, guru bagaikan kabel. Semua harus sama-sama dalam kondisi baik agar menghasilkan penerangan yang baik. Jika salah satu ketiga unsur ada yang terganggu, maka sinar tidak akan terang dengan maksimal.
