Relevansi Media Dan Strategi Akulturasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Ke Dalam Budaya Lokal Masyarakat Ngadas Tengger Bromo

Penulis

  • Ifa Nurhayati Universitas Islam Raden Rahmat Malang
  • Roibin Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Kata Kunci:

Akulturasi, emosional-kultural, kultural-formal, kearifan lokal, mitos

Abstrak

Proses perjumpaan nilai-nilai budaya dari suatu kelompok manusia pada kebudayaan tertentu dengan unsur-unsur budaya asing yang berbeda, bukanlah relasi yang tanpa masalah, meskipun manfaat hubungan keduanya sejak lama telah dirasakan oleh
masyarakat. Beberapa masalah relasi budaya yang ada selama ini menggambarkan relasi yang sefihak, saling mendominasi, dan kadang tidak seimbang, baik dari aspek media maupun strategi yang digunakan.
Pada satu sisi seseorang dengan watak budayanya, tertarik mewarnai dan mempengaruhi suatu kelompok manusia dengan ciri khas media dan strategi budaya yang dimilikinya. Sebaliknya, terdapat pula seseorang dengan media dan strategi budayanya yang sangat eksklusif, tidak bersedia dipengaruhi dan diwarnai oleh budaya apapun yang ada. Perilaku ini tak jarang melahirkan subjektifitas penilaian pejoratif yang mengarah pada tindakan kecurigaan, negative thingking, truth claim, hingga terjadinya benturan dan konflik antar budaya. Secara lebih spesifik tulisan ini bertujuan mengelaborasi, menjelaskan, dan menganalisis relevansi media dan strategi akulturasi nilai-nilai Pendidikan Islam ke dalam budaya lokal masyarakat Ngadas Tengger Bromo Poncokusumo Malang.
Tulisan ini adalah hasil kajian research empiris di Ngadas Tengger Bromo Poncokusumo Malang yang dianalisis dengan pendekatan teori akulturasi Koentjoroningrat.
Sesuai data di lapangan ditemukan beberapa media penting berikut setrategi tokoh agama yang digunakan untuk mentransformasikan nilai-nilai Pendidikan Islam ke dalam nilainilai budaya lokal. Di antara media penting tersebut adalah ritual perkawinan, bercocok tanam, kematian, bisnis, pengobatan, mitos Islam dan lokal. Sedangkan strategi tokoh dalam mentransformasikan nilai-nilai Pendidikan islam ke dalam budaya lokal antara lain 1). Emosional-kultural, strategi yang sangat baik dan efektif, serta relevan, karena masyarakat meyakini dan membutuhkannya pada semua aspek hajat mereka. 2). kultural
struktural, strategi yang jauh lebih efektif secara kuantitatif, meskipun masyarakat tidak mempercayainya secara tulus, karena strategi ini terikat oleh aturan birokrasi. 3). formal legalistik, strategi yang tidak efektif, karena masyarakat menolak dan kontradiksi terhadap cara dan strategi purifikatif yang mereka kembangkan.

Diterbitkan

2022-05-29