Efektifitas Penggunaan Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Produksi Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) pada Tingkat Naungan yang Berbeda
DOI:
https://doi.org/10.33379/radikula.v1i2.1872Kata Kunci:
Cabai Rawit, PGPR, Mikoriza, Tumpang sariAbstrak
Peningkatan produksi cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dapat dilakukan dengan upaya ekstensifikasi melalui perluasan areal tanam dan penggunaan tanaman cabai sebagai tanaman sela pada pola tanam tumpang sari. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi tingkat naungan dan pupuk hayati yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi cabai rawit sebagai tanaman sela. Penelitian disusun menggunakan metode Nested dengan 13 kombinasi perlakuan antara lain Kontrol; Naungan 25%, Non-Pupuk Hayati; Naungan 25%, PGPR; Naungan 25%, CMA; Naungan 25%, PGPR+CMA; Naungan 50%, Non-Pupuk Hayati; Naungan 50%, PGPR; Naungan 0%, CMA; Naungan 50%, PGPR+CMA; Naungan 75%, Non-Pupuk Hayati; Naungan 75%, PGPR; Naungan 75%, CMA dan Naungan 75%, PGPR+CMA. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan naungan dan aplikasi pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi cabai rawit. Kombinasi naungan 25% dengan aplikasi PGPR dan CMA secara konsorsium merupakan kombinasi yang tepat dalam upaya penggunaan tanaman cabai rawit sebagai tanaman sela dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi cabai rawit.
Referensi
Aspray, Tj., P. Frey-Klett, J.E. Jones, J.M. Whipps, J. Garbaye & G.D. Bending. (2006). Mycorrhization Helper Bacteria: A Case of Specifity for Altering Ectomycorrhiza Architectur but not Ectomycorrhiza Formation. Mycorrhiza 16: 533-541
Boraste, A.V., Jhadar K. K, Khainar, A., Gupte Y., Trivedi N., Patil S., Gupta P., Gupta G., Mujapara A. K. & Joshi, B. (2009). Biofertilizer: A novel tool for Agriculture. International Journal of Microbiology Research, 1(2), 23-31.
Fahmi, Z.I. (2003). Studi karakteristik iklim mikro dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi dan daya adaptasi genotipe-genotipe kedelai (Glycine max (L.) Merr.) pada empat tingkat naungan buatan [Skripsi]. Bogor (ID) Institut Pertanian Bogor. 88 hal.
Frey-Klett, P., J. Garbaye & Tarkka. (2007). The mycorrhiza helper bacteria revisites. New phytologist 176: 22-36
Hale, M.G. & D.M. Orcutt. (1987). The Physiology of Plants under Stress. New York : John Wiley and Sons. 206 pp.
Hamastuti, H. & E.O Dwi. (2012). Peran Mikroorganisme Azotobacter chroococcum, Pseudomonas fluorescens, dan Aspergillus niger pada Pembuatan Kompos Limbah Sludge Industri Pengolohan Susu. Jurnal Teknik POMITS 1 (1) : 1-5.
Hidayat, C. (2003). Studi Biodiversitas Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tumbuhan Bawah di tegakan Sengon. [Skripsi]. Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 45 hal.
Johansson, J. F., L.R Paul & R.D. Finlay. (2004). Microbial interactions in the mycorrhizophere and their significance for sustainable agriculture. FEMS Microbiol. Ecol. 48: 1-13
Khumaida, N. (2002). Studies on Upland Rice and Soybean to Shade Stress. (Disertasi). The University of Tokyo, Tokyo. 98 pp.
Lenin, G & M. Jayanthi. (2012). Indole Acetic Acid, Gibberellic Acid and, Siderophore Production by PGPR Isolates from Rhizospheric Soils of Catharanthus roseus. J. Pharmaceutical and Biological. 3(4):933-938
Lugtenberg, B.J., T.F. Chin-A-Woeng & G.V. Bloemberg. (2002). Microbe-plant interactions: principles and mechanisms. Antonie van Leeuwenhoek, 81: 373-383.
Mawardi, I. & Sudaryono. (2008). Pengaruh irigasi dan naungan terhadap produksi tanaman cabe (Capsicum annum) pada lahan berpasir di pantai Glagah, Yogyakarta. J. Hidrosfir Indonesia 3(1): 41-49.
Nazir, R., J. A. Warmink, H. Boersma & J. D. Elsas. (2010). Mechanims that promote bacterial fitness in fungal affecected soil microhabitats. FEMS Microbiol Ecol 71: 169-185
Rusdi, S., Suharsono & Mustika. (2014). Pengaruh pemberian mikoriza terhadap pertumbuhan nanas bogor (Lokal Bangka) PMK Bangka. Jurnal Pertanian dan Lingkungan. 3(1):23-30.
Sahardi. (2000). Studi Karakteristik Anatomi dan Morfologi serta Pewarisan Sifat Toleransi terhadap Naungan pada Padi Gogo (Oryza sativa L). Disertasi. IPB Bogor. 158 hal.
Salisbury F.B. & C.W. Ross. (1992). Plant Physiology. Plant Physiology, Hormones and Plant Regulators: Auxins and Gibberellins. 4th Edition, Wadsworth Publishing, Belmont, 357-381.
Sopandie, D., Trikoesoemaningtyas, T. Handayani, Djufri & T. Takano. (2003). Adaptability of soybean to shade stress:Identification of morphophysiological responses. Proceedings of the 2nd Seminar on Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production, The Univ. of Tokyo, Japan, February 15-26 2003.
Talanca, H. (2010). Status cendawan mikoriza vesicular-arbuskular (MVA) pada tanaman. Pros. Pekan Serealia Nasional, 2010. hal.353-357.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2022 Fandyka Yufriza Ali, Descha Giatri Cahyaningrum

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.














