PERKEMBANGAN SOSIO-EKONOMI DAN PERKEBUNAN MASYARAKAT KUNINGAN, 1830-1870
DOI:
https://doi.org/10.36636/dialektika.v2i1.232Abstrak
Abstrak
Masyarakat Kuningan adalah masyarakat yang telah akrab dengan dunia pertanian
sejak berabad-abad yang lalu, dari zaman kerajaan tradisional hingga sekarang.
Namun, tidak banyak literatur yang membahas mengenai sejarah ekonomi masyarakat
pedesaan ini. Tulisan ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi kondisi sosial-ekonomi
masyarakat Kabupaten Kuningan dalam kurun pemberlakuan Sistem Tanam Paksa, sejak
tahun 1830 hingga tahun 1870. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode
sejarah dengan lima tahapannya, yaitu: pemilihan topik; pengumpulan sumber;
verifikasi (kritik sejarah); interpretasi; dan penulisan. Berdasarkan penelitian ini
diketahui bahwa pada umumnya kegiatan perkebunan di Kuningan berjalan dengan baik
dan menghasilkan keuntungan yang cukup menggembirakan bagi pihak kolonial. Meski
demikian, pihak yang diuntungkan ternyata bukanlah para buruh kebun yang menggarap
lahan-lahan kopi untuk mewujudkan panen yang melimpah tersebut, melainkan pihak
pemerintah Hindia Belanda beserta kaki tangannya yang duduk di pelbagai kursi
struktur pemerintahan yang ada.
Kata kunci: sosio-ekonomi, perkebunan, penjajahan, kolonial
Abstract
Brass society is a society that has been familiar with the world of agriculture centuries
ago, from the days of the traditional kingdoms until now. However, not a lot of literature
that discusses the economic history of this rural community. This paper has the aim to
identify the socio-economic condition of Kuningan Regency society within the
implementation of the Cultivation System, from 1830 to 1870. The method used in this
research is the historical method with five stages, namely: choice of topics; collection of
resources; verification (historical criticism); interpretation; and writing. Based on this
research note that in general the plantation activity in Kuningan running well and
making a profit is quite encouraging for the Colonial. However, the beneficiary was not
the workers who worked on the farm lands of coffee to realize the abundant harvest, but
the Dutch government and its henchmen are sitting in different seats of existing
governance structur.
Keywords: socio-economic, plantation, imperialism, colonialism
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2017 DIALEKTIKA : Jurnal Ekonomi dan Ilmu Sosial

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.





