Empati Dan Penerimaan Sosial Siswa Reguler Terhadap Siswa ABK

Penulis

  • Okta Novrika Sandra Universitas Islam Raden Rahmat
  • Lutfiatuz Zuhroh Universitas Islam Raden Rahmat

DOI:

https://doi.org/10.36636/psikodinamika.v1i1.557

Kata Kunci:

Empati, Inklusi, Penerimaan Sosial

Abstrak

Banyak terjadi kasus penolakan siswa reguler terhadap siswa ABK dengan alasan perbedaan dan keterbatasan yang dimilikinya. Siswa reguler belum mampu memahami keadaan siswa ABK dengan segala keterbatasannya, mereka memandang siswa ABK dengan kacamata mereka sebagai siswa normal, tanpa mencoba membayangkan bagaimana jika mereka yang berada di posisi siswa ABK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan empati dan penerimaan diri siswa reguler terhadap siswa ABK di kelas inklusif SD Inklusif Ulil Albab Kepanjen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunkan teknik analisis data korelasi product moment. Sampel penelitian ini berjumlah 53 siswa reguler, dimana subjek merupakan siswa reguler yang kebetulan ditemui dan cocok sebagai sumber data. Terdapat dua alat ukur yang digunakan adalah (1) skala empati dan (2) skala penerimaan sosial.Dari hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa hipotesis peneiltian ini diterima. Hal ini menandakan empati berkorelasi positif dengan penerimaan sosial. Sehingga semakin tinggi tingkat empati maka semakin tinggi pula tingkat penerimaan sosial siswa reguler terhadap siswa ABK di kelas inklusif  SD Inklusif Ulil Albab.

Referensi

Andini, N. R. (2008). Penerimaan dan penolakan sosial terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusi (SDN Bedali 5 Lawang). Skripsi. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Arslan. E., & Sahbaz, U. (2012). A study to develop a scale for detemining the social acceptance levels of special-need student, participating in invlision practies, 7 , 651-662.

Howe, D. (2015). Empati makna dan pentingnya. Ahli Bahasa: Ahmad Lintang Lazuardi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leary, M. R. (2010). Affiliation, acceptance, and belonging. In S.T. Fiske, D.T. Gilbert & G.Lindzey (Eds.), Handbook of Social Psychology (5th Ed., Vol.2, pp. 864 - 897). New York, NY: Wiley.

Mangunsong, F. (2009). Psikologi pendidikan anak berkebutuhan khusus Jilid 1. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).

Mindarsih. (2013). Studi tentang interaksi sosial ABK dan non ABK di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi SMP Al Firdaus Sukoharjo. Skripsi. Universitas Sebelas Maret.

Molchanov, S. V. (2014). Emphaty as the factor of moral dilemma solving in adolescene. Journal social and behaviour science Lomonosov Moscow University.

Oktaviani, A. (2016). Hubungan antara empati dengan perilaku prososial pada siswa SMK Batik Surakarta. Skripsi. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakata.

Permendiknas No. 70 Tahun (2009). Tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.

Pratiningrum, N. (2010). Fenomena penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. Jurnal Pendidikan Khusus.

Setiawati, F. A., Wasesa, I., & Sudjud, A. (2007). Empati. Yogyakara: Tiara Wacana

Soefandi, I., & Pramudya, S. A. (2009). Strategi membangun potensi kecerdasan anak. Jakarta: Bee Media Indonesia.

Suardi, M. (2012). Pengantar pendidikan teori dan aplikasi. Jakarta: Indeks.

Sugiyono. (2012). Metode penelitian pendidikan (Pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D). Bandung: Peneribt Alfabeta.

Taufik. (2012). Empati pendekatan psikologi sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Undang-Undang Dasar 1945.

Tarmansyah. (2007). Inklusi pendidikan untuk semua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Viscott, D. (2002). Mendewasakan hubungan antarpribadi. (Alih bahasa: Petrus Bere). Cet.6. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Diterbitkan

20-04-2021

Cara Mengutip

Empati Dan Penerimaan Sosial Siswa Reguler Terhadap Siswa ABK. (2021). Psikodinamika: Jurnal Literasi Psikologi, 1(1), 57-66. https://doi.org/10.36636/psikodinamika.v1i1.557