Psychological Well-Being Dewasa Awal dengan Disabilitas Fisik yang Mengalami Perceraian Orang Tua
DOI:
https://doi.org/10.36636/psikodinamika.v5i1.6008Abstrak
Psychological well-being merupakan kemampuan individu dalam memaknai hidup, memiliki
hidup yang puas, pandangan mengenai masalah-masalah yang terjadi dalam hidup dan
keseimbangan antara perasaan positif dan negatif. Akibat dari perceraian orang tua yang
terjadi dan disabilitas fisik yang dialami oleh dewasa awal dapat mempengaruhi pencapaian
psychological well-being. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
psychological well-being pada dewasa awal dengan disabilitas fisik yang mengalami perceraian
orang tua di masa anak-anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik
pengambilan data berupa observasi dan wawancara. Terdapat tiga partisipan dalam penelitian
ini. Berdasarkan hasil analisis, satu dari tiga partisipan belum memiliki psychological well-being yang baik karena hanya tiga dari enam dimensi yang terpenuhi.
Referensi
Adelina, F., Akhmad, S. K., & Hadi, C. (2018). Bagaimana Agar Penyandang Tunadaksa Mampu Menjadi Pribadi Yang Bahagia ? Jurnal Sains Psikologi, 7(2), 119–125. https://doi.org/https://doi.org/10.17977/um023v7i22018p119
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Indonesia 2023. In Badan Pusat Statistik (11th ed.). Direktorat Diseminasi Statistik.
Beck, A. T., Weissman, A., Lester, D., & Trexler, L. (1974). The measurement of pessimism: The Hopelessness Scale. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 42(6), 861–865. https://doi.org/10.1037/h0037562
Brebahama, A., & Listyandini, R. A. (2016). Gambaran Tingkat Kesejahteraan Psikologis Penyandang Tunanetra Dewasa Muda. Mediapsi, 02(01), 1–10. https://doi.org/10.21776/ub.mps.2016.002.01.1
Cherlin, A. J., Chase-Lansdale, P. L., & McRae, C. (1998). Effects of parental divorce on mental health throughout the life course. American Sociological Review, 63(2), 239–249. https://doi.org/10.2307/2657325
Cole, K. (2004). Mendampingi anak menghadapi perceraian orangtua. Prestasi Pustakarya.
Dagun, S. M. (1990). Psikologi keluarga (peranan ayah dalam keluarga). Rineka Cipta.
Damayanti, E., Maslihah, S., & Damaianti, L. F. (2021). Psychological Well-Being Pada Remaja Tuna Daksa. Psikovidya, 25(1), 45–51. https://doi.org/10.37303/psikovidya.v25i1.137
Dariyo, A. (2004). Memahami psikologi perceraian dalam kehidupan berkeluarga. Jurnal Psikologi, 2(2).
Gunarsa, Y. S. D., & Gunarsa, S. D. (2011). Psikologi untuk keluarga. Penerbit Libri.
Kanwal, H., & Mustafa, N. (2016). Psychological well-being and quality of life among physically disabled and normal employees. Pakistan Armed Forces Medical Journal, 66, 710–771.
King, L. A. (2022). Experience Psychology. McGraw-Hill.
Ningsih, F., & Susanti, S. S. (2019). Psychological well-being pada penyandang disabilitas fisik. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan, 4(1). http://jim.unsyiah.ac.id/FKep/article/download/11750/4982
Papalia, D. E., & Martorell, G. (2024). Experience Human Development. McGraw-Hill Education.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Asia Nawita Putri, Niken Widi Astuti

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
The author who wishes to publish articles in this journal agree with the following conditions:
- Author retains the copyright and simultaneously provides the journal the first publishing rights of the manuscript under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an initial job writing and publishing statement in this journal.
- The author can include in separate additional contractual arrangements for the rich version of non-exclusive distribution of journal publications (eg posting it to the institutional repository or publishing it in a book), with recognition of publishing initially in this journal.
- The author is permitted and encouraged to post their work online (for example: in the institutional repository or on their website) before and during the submission process because it can lead to productive exchanges, as well as earlier and more powerful citations of published works. (See open access policy).


