Self-Compassion Dengan Emotional Quotient Pada Masa Dewasa Awal
DOI:
https://doi.org/10.36636/psikodinamika.v5i1.5093Kata Kunci:
welas asih, kecerdasan emosional, self-compassion dengan emotional quotient pada masa dewasa awalAbstrak
Masa dewasa awal merupakan tahap ketika individu mengalami berbagai perubahan fisik, psikologis, sosial dan emosional yang dapat mempengaruhi kesejahteraan emosionalnya. Self-Compassion adalah keahlian dalam memperlakukan diri dengan penuh pengertian, baik, serta sabar ketika dihadapkan pada kesulitan, kegagalan maupun penderitaan. Temuan ini menyoroti pentingnya sikap yang baik terhadap diri sendiri dalam pengembangan kecerdasan emosional yang sehat. Selain itu, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa welas asih dapat sebagai faktor mediasi penting dalam mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosional seseorang. Metode penelitiannya adalah kuantitatif dengan jenis penelitian yang dipakai ialah kuantitatif korelasional untuk mengukur hubungan dua variabel yaitu mengenai ada tidaknya korelasi variabel X dengan variabel Y. Dengan demikian, penelitian ini akan mencoba mendeskripsikan hubungan antar variabel dan mengetahui ada tidaknya korelasi sebab akibat antara Self-Compassion dan Emotional Quotient pada masa dewasa awal. Sesuai hasil analisis uji korelasi product moment berbantuan aplikasi SPSS 29 for Windows diketahui nilai sig 0,001 < 0,05 N 67 dimana nilai sig < 0,05, artinya terdapat pengaruh positif signifikan korelasi antara Self-Compassion dan Emotional Quotient, berarti semakin tinggi Self-Compassion maka semakin tinggi juga tingkat Emotional Quotient atau (kecerdasan emosional). Berdasarkan hasil analisis uji korelasi terlihat taraf korelasi (nilai R) sebesar 0,456. Didasarkan pada pemerolehan koefisien determinasi (R square) sejumlah 0,208 yang berarti ada korelasi antara variabel X dengan variabel Y. Dimana perhitungan R2 = 0,208 adalah sekitar 0,456 atau 45,6%. Jadi nilai korelasi (R) sejumlah 45,6%, nilai tersebut menunjukkan tingkat korelasi sedang/sedang. Penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan Self-Compassion yang baik cenderung lebih baik dalam pengenalan serta pengelolaan emosi, baik emosinya pribadi ataupun orang lain. Jadi, kesimpulannya, Self-Compassion sangat penting untuk kesejahteraan kita di masa dewasa awal. Ini membantu kita merasa lebih bahagia, mempunyai relasi yang lebih baik dengan orang lain, hingga lebih kuat ketika menghadapi tantangan hidup.
Referensi
Akin, A. (2010). Self-compassion and Loneliness. International Online Journal of Educational Sciences, 2(3).
Ambara, D. M. J. (2017). Welas asih dan keharmonisan sosial. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 10(2), 251–271.
Anggrian, R. (2018). Self compassion sebagai sikap pereduksi perilaku agresi relasi remaja di sekolah. Prosiding Seminar Nasional Bimbingan Dan Konseling, 2(1), 72–88.
Ayulanningsih, A., & Karjuniwati, K. (2020). Welas Asih Diri dan Kesejahteraan Subjektif pada Remaja dengan Orang Tua Bercerai. Psikologika: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi, 25(1), 85–96.
Dewi, N. U., Danyalin, A. M., Wahyu, A. M., & Chusniyah, T. (2021). Self compassion sebagai prediktor optimisme pada mahasiswa Universitas Negeri Malang yang orang tuanya bercerai. Seminar Nasional Psikologi Dan Ilmu Humaniora (SENAPIH), 1(1), 14–25.
Dharmayana, I. W., Kumara, A., & Wirawan, Y. G. (2012). Keterlibatan siswa (student engagement) sebagai mediator kompetensi emosi dan prestasi akademik. Jurnal Psikologi, 39(1), 76–94.
Elmya, M., Alfinurib, N., Winarsoc, H. P., & Akhyard, Z. (2022). The Role of Compassion as a Shared Value of Grassroots Communities in a Circular Economy. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 12(01), 67–73.
Febrinabilah, R., & Listiyandini, R. A. (2016). Hubungan antara self compassion dengan resiliensi pada mantan pecandu narkoba dewasa awal. Prosiding Konferensi Nasional Peneliti Muda Psikologi Indonesia, 1(1), 19–28.
Firdaus, M. (2022). Hubungan Self Compassion dengan Homesickness pada Siswa Baru di Pondok Pesantren. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 9(4), 1240–1246.
Hakiki, M. (2020). Hubungan kompetensi kepribadian dan kecerdasan emosional guru plk terhadap motivasi belajar siswa. Jurnal Muara Pendidikan, 5(2), 633–642.
Karinda, F. B. (2020). Belas kasih diri (self compassion) pada mahasiswa. Cognicia, 8(2), 234–252.
Mohamad Yusoff, Z. J., Don, Y., & Ismail, S. N. (2014). Kompetensi emosi pemangkin keberkesanan amalan kepimpinan guru. JURNAL KEPIMPINAN PENDIDIKAN| Oktober 2014, Bil. 1, Isu 3.
Moningka, C. (2017). Pemaknaan self compassion pada tenaga kesehatan di Jakarta Utara melalui pendekatan psikologi ulayat. Psibernetika, 6(2).
Oktawirawan, D. H., & Yunanto, T. A. R. (2021). Welas Asih: Konsep Compassion dalam Kehidupan Masyarakat Jawa. Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial Dan Budaya, 6(2), 145–150.
Rahayu, P., Adelina, F., Kamal, S., Widayanto, W. N., & Hadi, C. (2019). Belas kasih diri (self-compassion) dan pengorbanan (altruism) pada suku Tengger. Jurnal Fenomena, 28(1), 30–38.
Ramadhani, F., & Nurdibyanandaru, D. (2014). Pengaruh self-compassion terhadap kompetensi emosi remaja akhir. Jurnal Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental, 3(03), 121.
Sugianto, D., Suwartono, C., & Sutanto, S. H. (2020). Reliabilitas dan validitas self-compassion scale versi Bahasa Indonesia. Jurnal Psikologi Ulayat, 7(2), 177–191.
Toth-Kiraly, I., & Neff, K. D. (2021). Is self-compassion universal? Support for the measurement invariance of the Self-Compassion Scale across populations. Assessment, 28(1), 169–185.
Wiguna, M. C., & Theresia, E. (2020). Hubungan antara Self-Compassion dan Compassion for Others pada Guru SD ‘X’di Kota Bandung. Humanitas (Jurnal Psikologi), 4(2), 117–130.
Wijayanti, N. T. (2021). Kompetensi emosi pada remaja. Psychological Journal: Science and Practice, 1(1), 16–22.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Camelia Rachmatika, Rr. Hesti Setyodyah Lestari

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
The author who wishes to publish articles in this journal agree with the following conditions:
- Author retains the copyright and simultaneously provides the journal the first publishing rights of the manuscript under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an initial job writing and publishing statement in this journal.
- The author can include in separate additional contractual arrangements for the rich version of non-exclusive distribution of journal publications (eg posting it to the institutional repository or publishing it in a book), with recognition of publishing initially in this journal.
- The author is permitted and encouraged to post their work online (for example: in the institutional repository or on their website) before and during the submission process because it can lead to productive exchanges, as well as earlier and more powerful citations of published works. (See open access policy).


